Minggu, 02 Oktober 2011

Konsep Desain Rumah Tahan Gempa

Gempa bumi adalah salah satu bencana alam yang tidak dapat kita prediksi. Secara alamiah fenomena alam tersebut tidak bias dihindari. Sebab lempeng – lempeng yang berada dikerak bumi bergerak secara aktif. Efek dari pergeseran dan tumbukan lempeng inilah yang menghasilkan getaran yang berupa gempa. Kekuatan alam sebenarnya tidak dapat kita lawan. Hanya kita berusaha untuk meminimalisir dampak yang tidak baik terhadap kita.
Beberapa contoh gempa bumi di negeri kita yang banyak menimbulkan korban jiwa dan harta adalah gempa bumi di Yogyakarta, Padang dan Aceh yang disertai dengan tsunami. Kebanyakan dari korban jiwa yang meninggal disebabkan terkena reruntuhan rumah atau bangunan yang tidak kuat menahan getaran gempa. Hal itu disebabkan karena rumah atau bangunan tadi belum dirancang untuk menahan beban gempa. Meskipun demikian bukan berarti rumah atau bangunan yang sudah dirancang untuk dapat menahan beban gempa bias bebas dari dampak buruk akibat gempa. Sekali lagi ini hanyalah salah satu usaha kita untuk meminimalisir kerugian akibat gempa untuk korban jiwa maupun harta benda.
Konsep bangunan tahan gempa pada dasarnya adalah upaya untuk membuat bangunan menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak lepas akibat gempa. Penerapan konsep ini salah satunya adalah membuat sambungan yang kuat diantara elemen – elemen bangunan, pemilihan bahan bangunan yang tepat dan pelaksanaan pembangunan yang tepat dan memenuhi standar.
Elemen – elemen bangunan harus menjadi satu ikatan yang utuh dan baik. Elemen – elemen tersebut antara lain :
1.       Pondasi
Pondasi merupakan elemen yang berfungsi untuk menyalurkan beban yang ada diatasnya ke tanah. Bentuk pondasi ini disesuaikan dengan kebutuhan beban. Pondasi ada yang berupa pondasi batu kali, pondasi telapak, pondasi tiang pancang, dll.
2.       Sloof
Sloof adalah elemen bangunan yang berada persis diatas pondasi. Sloof berfungsi  sebagai perata beban yang diterima pondasi. Selain itu sloof juga berfungsi sebagai pengunci dinding agar tidak roboh sewaktu ada pergerakan gempa. Agar mempunyai ikatan, sloof dan pondasi diberi angker. Kesimpulannya adalah sloof berfungsi meratakan beban yang diterima kolom ke pondasi dan menjadi pengikat antar kolom,dinding, dan pondasi.
3.       Kolom
Jika diibaratkan tubuh manusia,maka kolom ini adalah rangka manusia. Kolom mempunyai fungsi yang sangat penting agar bangunan tidak roboh. Kolom bias dibuat dari besi beton atau kayu,dengan dimensi yang disesuaikan dengan kebutuhan.
4.       Ring Balk
Ringbalk adalah salah satu eleman bangunan yang berada di atas dinding. Ringbalk berfungsi sebagai pengikat dinding dan perata beban diatasnya. Contoh beban yang diterima ringbalk adalah kuda – kuda bangunan. Dimensi ring balk disesuaikan dengan kebutuhan beban yang akan diterimanya.
5.       Struktur Atap
Struktur  atap terdiri dari kuda – kuda, gording, usuk ,reng, jurai,dll.  Untuk kuda – kuda bisa dibuat dari kayu ataupun beton.  Selain itu sekarang ini juga sedang berkembang struktur atap dari bahan baja ringan.
6.       Dinding
Dinding berfungsi sebagai pembatas ruangan. Sebenarnya dinding bukan bagian dari struktur namun merupakan bagian arsitektural. Agar dinding tidak rawan roboh maka dinding mempunyai luasan maksimal.  Bidang Dinding tidak boleh dibuat terlalu luas, harus diberi balok ataupu kolom praktis jika memang dirasa bidang dinding terlalu luas. Batasan yang umum untuk luasan dinding adalah 9m2. Namun tentu bisa dibuat lebih besar lagi asalkan secara perhitungan struktur memungkinkan. Agar mempunyai ikatan dengan kolom, maka antara kolom dan dinding diberi angker setiap jarak tertentu,misalnya setiap jarak 50 cm.
Dalam konsep bangunan tahan gempa kesemua elemen diatas harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Sehingga semua elemen itu harus mempunyai ikatan yang kuat dan baik. Sehingga menjadi penting ketika kita membangun sebuah rumah, ikatan antar elemen tadi menjadi perhatian yang serius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar